Sebuah event musik reguler hadir kembali di Purwokerto, berlangsung setiap Jumat di Champion Cafe and Resto. Mengusung konsep yang sederhana, Friday Freak (yang selanjutnya akan disebut FF) lahir sebagai wadah bertemu dan berkumpul pegiat musik di Purwokerto. Lahirnya FF dibidani oleh Achmad Mustaid (Aa) dan Dian Tutoo. Yang selanjutnya dikerjakan bersama Nurcholis, Agung Totman dan disupport oleh semua pegiat musik Purwokerto.
"FF terbentuk sebagai ajang silaturahmi pegiat musik di Purwokerto tanpa mengusung bendera apapun" -- Dian Tutoo
Berawal dari konsep itulah, setiap jumatnya setiap band penampil dipilih secara acak. Selain itu band penampil yang terlibat tidak ada proses seleksi berdasarkan jenis musik. FF diharapkan mampu membantu pegiat musik untuk menjaid mandiri, karena FF tidak menyediakan apapun selain tempat.
FF pertama kali diadakan pada tanggal 09 Desember 2011 di Libero Cafe. Hingga saat ini event FF sudah berjalan selama delapan kali. Rio Wijaya yang hanya absen dua kali di FF mengungkapkan bahwa FF merupakan event reguler yang bagus karena tidak mengusung genre apapun. Selain itu FF menjadi strategis sebagai acara akhir minggu yang cocok untuk refreshing.
Minggu ini (27/01/2012) FF menampilkan empat band penampil yaitu, Burning Dog, Dark Paravel, Fanasia dan Krusial Point. Setiap penampil diberi waktu selama 30 menit. Denis yang ditemui setelah tampil bersama bandnya Burning Dog yang berjenis musik Crust Grind Core, sebagai band pertama yang tampil di FF mengatakan bahwa FF yang megusung tema universal atau tak berbatas genre adalah sebuah event musik di Purwokerto yang harus terus berjalan. Denis berharap setting panggung dapat diperbaiki dan panitia mendokumentasikan acara ini.
Adanya sebuah wadah berekspresi dan apresiasi akan mempengaruhi perkembangan musik di sebuah daerah. Dan perkembangan musik di daerah juga bergantung pada seberapa besar pegiat musik di daerah tersebut mengapresiasi karyanya dan karya orang lain. Sebuah event reguler membutuhkan konsistensi semangat yang tinggi untuk dapat terus berjalan. FF hanya sebuah wadah, support dari pegiat musik Purwokertolah yang mengisinya. (Harumi)
dokumentasi FF :
foto oleh Dina Dinotz
foto oleh Dina Dinotz

Tidak ada komentar:
Posting Komentar